COVID-19


  Efek Pandemi COVID-19 Terhadap Lingkungan


COVID-19 merupakan istilah yang tidak asing lagi di telinga masyarakat. Coronavirus disease 2019 atau yang biasa dikenal dengan COVID-19 adalah penyakit yang sudah melanda hampir seluruh negara di dunia. Virus baru yang misterius penyebab pneumonia ini pertama kali ditemukan di Wuhan, Tiongkok. Setelah satu bulan sejak pasien pertama telah dinyatakan positif terinfeksi di Wuhan, kasus COVID-19 telah melonjak menjadi 2000 dan saat ini, sudah tercatat terdapat lebih dari 82 ribu kasus COVID-19 di Wuhan.
Setelah mulai merebak 6 bulan lalu, telah dilaporkan terdapat lebih dari 4,5 juta jiwa warga di seluruh dunia telah terinfeksi dan lebih dari 300 ribu jiwa telah dinyatakan meninggal. Jumlah yang sangat besar tersebut sangat berdampak hebat pada dunia pada seluruh bidang kehidupan. Ekonomi global, lingkungan sosial, pendidikan, hingga industri musik pun tidak luput dari dampak COVID-19.
Di Indonesia, seluruh pelajar di semua tingkat diliburkan dan pembelajaran dialihkan ke sistem online. Hal ini membuat kelimpungan banyak pihak karena tidak semua institusi pembelajaran memiliki persiapan yang baik dalam sistem online. Selain itu, roda perekonomian Indonesia hampir terhenti total. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga dunia. Banyak pabrik ditutup sehingga industri terhenti. Akibatnya, krisis keuangan menjadi masalah besar di tengah masyarakat. 


Namun, di tengah kekacauan yang sedang terjadi, ada dampak positif dari pandemi COVID-19. Dampak tersebut dirasakan oleh lingkungan alam. Para astronom menunjukkan penurunan emisi nitrogen dioksida di langit. Nitrogen dioksida adalah gas yang dihasilkan dari mesin mobil dan pabrik manufaktur komersil yang menjadi penyebab buruknya kualitas udara di banyak kota besar. Citra satelit juga menunjukkan terhentinya sebagian besar kegiatan industri berakibat pada pengurangan tingkat polusi udara. Tidak hanya akibat pemberhentian kegiatan industri, berkurangnya kendaraan bermotor yang beroperasi berperan dalam pengurangan tingkat polusi udara. Saat ini, kendaraan bermotor sangat jarang terlihat akibat ‘Lockdown’ dan anjuran ‘Stay At Home’ dari pemerintah sehingga persentase karbon monoksida berkurang dan tentunya membantu kualitas udara membaik. Kabar baik ini menjadi angin segar bagi dunia di tengah kabar buruk yang terus menyelimuti.


            Selain itu, pandemi COVID-19 memberikan dampak pada konservasionis, yaitu konservasionis dapat mengekang perdagangan satwa liar. Mungkin, sebagian orang menjadi takut untuk berdekatan dengan satwa liar karena virus corona jenis baru ini diperkirakan bermula dari satwa liar di pasar Wuhan. Akibatnya, satwa liar bisa menjadi lebih terlindungi. Tidak hanya berdampak pada lingkungan darat dan udara, perairan juga terkena dampak dari COVID-19. Di lautan nun jauh disana, banyak kapal pesiar yang berhenti berlayar dan berlabuh di berbagai negara untuk menghentikan aktivitas di dalamnya. Dengan berhentinya aktivitas kapal pesiar untuk sementara waktu ini, polusi suara di lautan akan mengalami penurunan. Hal ini berdampak baik bagi kehidupan laut karena tingkat stress makhluk laut mengalami penurunan sehingga keberlangsungan hidup mereka lebih terjamin. 
            Jika dilihat secara kasat mata, sebagian besar lingkungan memang mendapatkan banyak dampak positif, tetapi dampak negatif yang begitu mengancam juga tidak dapat terhindarkan. Salah satu efeknya adalah meningkatnya sampah plastik. Pada masa pandemi ini, kebutuhan alat medis bertambah. Akibatnya, penggunaan plastik sekali pakai dari peralatan medis meningkat pesat, contohnya adalah sarung tangan.


Peningkatan penggunaan APD tentunya meningkatkan jumlah limbah medis. Di Tiongkok sendiri, limbah medis bertambah jumlahnya dari 4.902 ton menjadi 6.066 ton per hari. Bahkan, menurut perhitungan para ahli, setiap pasien yang terinfeksi virus corona jenis baru ini dapat menghasilkan sekitar 14,3 kg limbah medis per hari. Apabila tidak dikelola dengan baik, limbah medis dari penyakit menular ini akan menjadi sumber penularan bagi pasien-pasien lain, petugas medis, dan masyarakat sekitar. Bahkan menurut penelitian dari New England Journal Medicine, virus corona dapat bertahan hidup di permukaan kardus selama 24 jam dan lebih buruknya lagi, dapat bertahan dua hingga tiga hari di permukaan plastik dan stainless steel.
Beberapa rumah sakit di Indonesia telah bekerjasama dengan pemerintah daerah untuk mengatasi masalah limbah tersebut. Limbah infeksius ini sendiri telah diatur pengelolaannya oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Dalam ketentuan tersebut, limbah infeksius dari RS harus disimpan paling lama dua hari dalam kemasan tertutup setelah limbah tersebut dihasilkan. Selanjutnya, limbah ini dapat dibakar dalam suhu 800°C lalu diserahkan kepada pengelola limbah.
Jika dilihat dari berbagai sisi di atas, para ahli mengatakan bahwa saat ini adalah waktu yang tepat bagi bumi melakukan Restart Button. Berkurangnya polusi secara besar-besaran menjadi kesempatan bumi untuk memulihkan dirinya. Awalnya, sisi positif terlihat mendominasi di bidang ini. Namun, setelah dilihat secara luas, banyak ahli yang merasa khawatir akan keadaan yang terjadi. Berdasarkan keadaan saat ini, untuk memperbaiki lingkungan yang telah rusak oleh perbuatan manusia sendiri, banyak manusia kehilangan nyawa dan seluruh sektor ekonomi terhambat.
            Sebagai manusia yang baik, kita harus mampu menjaga alam dan tidak serakah agar alam memberikan hasil yang baik pula. Masa pandemi ini bisa menjadi saat yang baik untuk meningkatkan kesadaran akan gaya hidup yang ramah lingkungan. Tidak hanya dalam radar individu, tetapi juga pemerintah dan industri. Semua proses produksi harus selaras dengan alam. Oleh karena itu, semua orang harus merefleksikan diri pada situasi seperti ini agar bisa menjadi lebih baik dengan tidak menyebabkan kerusakan dan polusi serta mampu menjaga kelestarian alam.

Diolah dari berbagai sumber