Coronavirus Disease 2019: What You Have To Know


Coronavirus Disease 2019: What You Have To Know

COVID-19 (Coronavirus Disease 2019) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh jenis coronavirus yang baru ditemukan. Penyakit menular ini berawal dari Wuhan, Tiongkok. Kasus ini bermula pada tanggal 31 Desember 2019,  saat Tiongkok melaporkan kasus pneumonia misterius yang tidak diketahui penyebabnya. Sampel isolat dari pasien kasus ini kemudian diteliti dengan hasil menunjukkan adanya infeksi coronavirus, jenis betacoronavirus tipe baru. Coronavirus jenis baru ini  kemudian diberi nama 2019 novel Coronavirus (2019-nCoV) dan nama penyakitnya sebagai Coronavirus disease 2019 (COVID-19).
COVID-19 bukan merupakan penyakit coronavirus pertama yang menyerang manusia. Sebelumnya, pada tahun 2002-2003 terjadi kejadian luar biasa di Provinsi Guangdong, Tiongkok yaitu kejadian SARS dengan tingkat kematian sekitar 10%. Agen virus Coronavirus pada kasus SARS disebut SARS-CoV, grup 2b betacoronavirus. Kemudian tahun 2012, Coronavirus jenis baru kembali ditemukan di Timur Tengah diberi nama MERS-CoV, grup 2c betacoronavirus penyebab kasus MERS dengan tingkat kematian sekitar 40%. Pada tanggal 11 Februari 2020, World Health Organization memberi nama virus baru tersebut Severa Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2 (SARS-CoV-2). Memang, coronavirus penyebab COVID-19 ini memiliki kemiripan dengan SARS-CoV. Sekuens genom dari Coronavirus baru (SARS-CoV-2) diketahui hampir mirip dengan SARS-CoV. Reseptor coronavirus baru juga memilliki reseptor yang sama dengan SARS-CoV, yaitu ACE-2.
Kasus COVID-19 yang saat ini menjadi wabah di seluruh dunia ini dapat dengan mudah menyebar. Penyakit ini ditularkan dari manusia ke manusia melalui droplet yang keluar saat batuk atau bersin. Penyebaran penyakit ini juga dapat melalui rute fecal-oral, yaitu virus masuk ke mulut melalui benda, makanan, atau minuman yang sudah terkontaminasi. Pada manusia, SARS-CoV-2 menginfeksi sel-sel terutama pada saluran napas yang melapisi alveoli. Tingkat keparahan infeksi virus ini dipengaruhi oleh sistem imun orang yang terinfeksi. Respon imun yang tidak adekuat memudahkan virus untuk berkembang di dalam tubuh manusia dan merusak jaringan tubuh.
Lansia dengan umur ≥ 85 tahun akan lebih rentan terjangkit COVID-19. Pasien dengan penyakit jantung dan pembuluh darah, diabetes, penyakit pernapasan kronis, hipertensi, dan kanker juga memiliki risiko tinggi untuk terserang penyakit ini. Jenis kelamin laki-laki dan perokok aktif juga merupakan faktor risiko dari infeksi SARS-CoV-2. Faktor-faktor risiko lain yang ditetapkan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) adalah kontak erat, termasuk tinggal satu rumah dengan pasien COVID-19 dan riwayat perjalanan ke area terjangkit.
Saat virus masuk ke dalam tubuh (pasien belum menunjukkan gejala) hingga pasien mulai mengalami gejala disebut sebagai masa inkubasi. Lama masa inkubasi bervariasi, mulai dari 5 hari hingga 14 hari. Oleh karena itu, saat ini, setiap orang dianjurkan untuk berdiam diri di rumah selama minimal 14 hari untuk memastikan apakah ia memiliki kemungkinan terjangkit COVID-19 dan sekaligus membantu agar virus tersebut tidak menular lebih luas.
Tahap awal perjalanan COVID-19 pada tubuh manusia dimulai dari asimptomatis atau tidak menunjukkan gejala apapun. Tahap berikutnya adalah pasien mulai menunjukkan gejala ringan, seperti demam, fatigue, batuk (dengan atau tanpa sputum), anoreksia, malaise, nyeri tenggorokan, kongesti nasal, atau sakit kepala. Pasien dengan gejala ringan ini tidak membutuhkan suplementasi oksigen. Gambaran klinis selanjutnya adalah pneumonia. Tanda dan gejalanya antara lain demam persisten, sesak, hipoksemia (kadar oksigen dalam darah menurun), gambaran foto thoraks seperti pneumonia, dan peningkatan CRP (C-reactive protein). Gambaran klinis yang paling berat adalah inflamasi atau radang pada berbagai organ sehingga terjadi kegagalan pada berbagai organ tubuh tersebut dalam melaksanakan fungsinya.
Ada beberapa obat yang direkomendasikan oleh Infectious Disease Society of America untuk COVID-19 antara lain hydroxychloroquine / chloroquine, azithromycin, kombinasi lopinavir / ritonavir, tocilizumab, oseltamivir, favipiravir, dan plasma konvalesen. Menurut salah satu penelitian yang dilakukan Gautret et al, penggunaan hydroxychloroquine pada pasien COVID-19 berdampak pada penurunan konsentrasi virus pada plasma darah, hal ini terlihat dengan penggunaan PCR (Polymerase chain reaction). Meskipun begitu, apabila terdapat gejala-gejala COVID-19, alangkah baiknya untuk segera memeriksakan diri ke dokter untuk mendapatkan pengobatan yang optimal. Masyarakat harus berhati-hati dalam membeli obat tanpa resep dokter karena beberapa obat memiliki efek samping yang berbahaya. Untuk beberapa obat jenis antibiotik, misalnya, selain memiliki efek samping yang berbahaya, kesalahan dosis obat antibiotik dapat menyebabkan resistensi mikroba sehingga kedepannya akan ditemukan kesulitan untuk mengobati penyakit yang disebabkan mikroba yang sama, namun pada mikroba tersebut dapat terjadi resistensi (kekebalan terhadap obat yang diberikan).
Vaksin imun terhadap virus SARS-Cov-2 masih dalam tahap pengembangan. Oleh karena itu, kewaspadaan diri  pada kasus ini sangat diperlukan. Personal hygiene seperti mencuci tangan, menggunakan masker dan melaksanakan etika batuk sangat disarankan sebagai bentuk pencegahan dini penyebaran COVID-19. Mengurangi kontak/bersentuhan (bersalaman), menghindari berkumpul massal/social distancing, mengatur jarak minimal 1 meter/physical distancing, dan melaksanakan WFH (Work From Home) juga diperlukan untuk memutus rantai penyebaran  COVID-19 di Indonesia. Hal yang penting dalam melawan penyakit COVID-19 adalah menjaga sistem imunitas diri dan mengendalikan penyakit penyerta (komorbid) dengan konsumsi gizi seimbang, akfititas fisik, suplemen vitamin dan istirahat cukup.

Referensi: 
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 7, No. 1, Maret 2020 
Gautret P, Lagier J-C, Parola P, et al. Hydroxychloroquine and azithromycin as a treatment of COVID-19: results of an open-label non-randomized clinical trial. Int J Antimicrob Agents 2020:105949