Konservasi Terumbu Karang


Konservasi Terumbu Karang



                Konservasi Terumbu Karang ini dilaksanakan tepatnya pada 10-11 Januari 2019. Malam itu, tepatnya pukul 20.00 WIB hampir semua anggota KPLA tiga GPN terbawah berkumpul di pondok untuk mempersiapkan diri sebelum berangkat menuju  Pantai Tiga Warna yang berlokasi di Jl. Sendang Biru, Area Sawah/Kebun, Tambakrejo, Sumbermanjing, Malang. Di lokasi tersebut tidak hanya terdapat satu pantai melainkan tiga pantai yaitu Pantai Clungup, Pantai Gatra, dan Pantai Tiga Warna. Tepat pukul 22.00 WIB, Bus yang membawa kami tiba. Kami segera bergegas untuk berangkat. Di sepanjang perjalanan kami semua menikmati snack yang dibawa pribadi, mendengar musik yang berbunyi keras, tertawa puas bahkan sampai lelah dan tertidur pulas.
                Kami menghabiskan waktu diperjalanan sekitar 4 jam. Kami diminta untuk beristirahat lagi karena waktu belum menunjukkan subuh. Terdengar suara adzan, kami bangun dan bersiap siap untuk melanjutkan perjalanan. Dari parkiran menuju Pantai Gatra membutuhkan waktu lebih kurang 30 menit dengan berjalan kaki. Waktu itu habis hujan deras, membuat tanah menjadi sangat basah sehingga membuat alas kaki yang kita pakai terbenam ke tanah. Kami memutuskan untuk melepaskan alas kaki agar mudah untuk berjalan. Sesampai di pintu masuk pantai tersebut, kami diminta untuk mengumpulkan barang-barang sekali pakai seperti plastik. Barang-barang sekali pakai tersebut dihitung gunanya agar kami pada saat kembali dari ketiga pantai tersebut tidak meninggalkan sampah atau barang sekali pakai.
                Sesampai di Pantai Gatra, kami mendirikan tikar dan duduk santai disana. Kami mengeluarkan bahan makanan yang dibawa dari Surabaya agar bisa dimasak dan dimakan bersama. Setelah menghabiskan makanan, pemandu dari pantai tersebut menghampiri kami. Kami dijelaskan bahwa untuk ke Pantai Tiga Warna dibutuhkan pemandu dan untuk sampai disana harus menghabiskan waktu sekitar 20 menit dengan berjalan kaki. Sepanjang perjalanan ke Pantai Tiga Warna kami melihat banyak pohon mangrove di kanan kiri jalan sehingga rentan sekali digigit nyamuk. Pemandu mengarahkan agar kita menggunakan obat nyamuk seperti repellen jika diperlukan
                Ketika sampai di Pantai tiga warna kita langsung bertemu dengan Mas Browi dan teman-temannya yang bekerja di Pantai Tiga Warna. Waktu itu yang menjadi perwakilan dari KPLA yang menanam terumbu karang adalah Indratama dari GPN XXIX. Mas Browi memberitahu kepada Indratama bagaimana rencana menyelam nanti yang akan kita lakukan di platform yang jaraknya sekitar 20 meter dari tepi pantai. Sedangkan anggota lainnya hanya snorkel untuk menyaksikan Indratama dan diver lainnya melakukan konservasi terumbu karang. Oxygen tank dan BCD (buoyancy control device) sudah disiapkan diatas platform itu. Ternyata regulatornya belom siap pada saat itu. Sambil menunggu kami foto-foto terlebih dahulu.


Setelah regulatornya siap dan dive bisa dilakukan, kita semua diberi briefing terlebih dahulu tentang konservasi terumbu karang yang akan dilaksanakan. Kita diajarkan ilmu dasar tentang terumbu karang dan pentingnya terumbu karang sebagai habitat organisme laut. Kita juga akan menurunkan module, yaitu kotak tinggi yang dibuat dari bahan plastik khusus yang bagian dasarnya diberi semen agar bisa tenggelam ke dasar laut dan bisa bertahan berdiri di dasar laut meskipun dilalui arus air yang cukup kuat. Terumbu yang akan kita tanam pada modul adalah tipe terumbu acropora yang nanti akan membantu memulai habitat baru pada module itu. Setelah briefing selesai, dive akan segera dilaksanakan.

Karena BCD dan oxygen tank ada di platform yang lumayan jauh jaraknya dari tepi Pantai Tiga Warna, maka para diver perlu berenang ke platform terlebih dahulu dengan membawa fin dan scuba mask. Di platform sudah ada modulenya serta peralatan dive seperti BCD, oxygen tank, dan belt pemberat. Satu hal yang penting dilakukan sebelum melakukan dive, memeriksa apakah BCD dan peralatan yang lain berfungsi dengan baik. Setelah peralatan selesai diperiksa, module juga kembali diperiksa. Semen yang ada di dasar module memang lumayan tebal sehingga membuat module sangat berat. Di bagian atas modulenya juga sudah disiapkan plat besi yang bertuliskan “KPLA FK UNAIR” beserta tanggal pada hari itu yang digunakan sebagai pengenal modul. Di Pantai Tiga warna ini sudah diturunkan puluhan modul dari organisasi lain juga, yang umurnya beragam dan tentunya jumlah serta jenis makhluk hidupnya beragam pula. Jadi penting untuk memberi pengenal untuk module yang akan kami turunkan pada hari itu. Setelah itu kami menurunkan module dengan bantuan Lina (GPN XXX), Dedy (GPN XXX), dan Mughni (GPN XXXI) untuk menggeser ke tepi platform dan menjatuhkannya ke laut. Module tenggelam cepat dan perlu waktu beberapa detik saja untuk mencapai dasar laut yang kedalamannya sekitar 10 meter. Kemudian para diver memasang peralatan dan terjun ke laut untuk memulai dive.
Visibilitas di dalam air sangat bagus pada hari itu dan arusnya juga tidak begitu kuat. Di Pantai Tiga Warna ini paling bagus dilakukan dive pada musim hujan atau pada akhir tahun karena arusnya tidak begitu kuat dan temperatur airnya masih lumayan hangat. Pada musim kemarau diceritakan bahwa arusnya sangat kencang dan suhunya juga terlalu dingin sehingga tidak layak untuk melaksanakan konservasi pada keadaan yang seperti itu. Sayangnya pada musim hujan tentu perlu sedikit keberuntungan agar pada hari dive tidak terjadi hujan. Diver turun sampai ke dasar laut dengan membawa terumbu dan tie strap untuk mengikatnya ke module yang sudah diturunkan ke dasar laut. Ketika turun Indratama (GPN XXIX) bisa melihat module-module lain yang ada di dasar laut itu, beserta kumpulan-kumpulan ikan dan terumbu yang ada disekitar modulenya. Kita melaksanakan dive selama kurang lebih 40 menit. Dua puluh menit pertama dihabiskan untuk menanam acropora pada modulenya. Penanamannya lumayan simple, hanya dengan mengaitkan satu batang acropora ke salah satu sisi modulenya dan mengikat dengan menggunakan tie strap plastik.
Daerah Pantai Tiga Warna atau Sendang Biru memang sebuah daerah konservasi. Sangat penting untuk menjaga kelestarian flora dan fauna yang ada di daerah sini. Mas Browi beserta rekan-rekannya adalah orang asli daerah sini dan mereka sangat peduli dengan lingkungan sekitar. Mereka berupaya menjaga lingkungan ini, salah satunya dengan melaksanakan konservasi terumbu karang. Hal yang mereka lakukan untuk menjaga daerah Sendang Biru ini sangatlah mulia. Kami merasa terhormat bisa membantu mereka mencapai tujuan itu.